
Sebenarnya tidak aneh kalau anak pasti mirip orang tuanya. Tetapi apa yang terlihat ini membuat saya terus merasa amazing dengan betapa luar biasanya hidup. Saya sudah pernah melihat bagaimana seseorang ketika melihat tingkah polah anaknya atau foto anaknya jadi ingat masa kecilnya. Rupanya tidak terkecuali saya ketika melihat pose ndhoweh saya tahun 1978 dan anak saya yang juga sedang pose ndhoweh tahun 2008 seperti terlihat ini.
Kalau berbicara tentang anak tentu tidak ada habisnya. Orang Jawa mengatakan “Wingka katon Kencana” bagaimana seseorang memandang dan berpandangan tentang anaknya. Suatu kali ketika saya sedang menceritakan betapa lucunya manusia yang lahir dari rahim saya lalu seorang kolega mengatakan “ Yo mesti ae wong anak anjing aja lucu kok!”. Tentu kalau sekedar tentang kelucuan ya sepakat saja bahwa memang mahkluk-makhluk yang masih kecil itu lucu, baik anak kucing, anak singa, anak gajah bahkan anak kutu. Small is beautiful begitu mungkin, meski tidak semua yang kecil-kecil begitu menyenangkan. Tetapi tentu kecilnya dan lucunya mahluk yang namanya manusia beda dong!
Yang paling menarik tentang makhluk kecil ini sebenarnya soal masa pertumbuhan dan masa depan. Sering dibayangkan dulu ketika masih sangat bayi dan pada saat sudah bisa mulai mengoceh, mulai jalan, dst. Fase-fase bertahap yang menurut senior harus dinikmati karena kita tidak akan merasakan kembali emosi fase-fase itu kecuali kita punya anak lagi. Dan setiap melihat anak selalu terpikir bagaiman dia nanti di masa depan.Setiap orang tua pasti pengen anaknya mengecap pendidikan paling baik, hidup paling bermutu, sehat jasmani dan rohani, dan seterusnya. Makanya punya anak itu sebenarnya cari kerjaan, jadi kalau kerjaannya banyak lebih baik jangan punya anak!hehe
Belum lagi ada statement bahwa anak-anak Reverend itu seringkali bermasalah. Karena orang tuanya sibuk mengurusi orang lain sehingga anaknya sendiri tidak sempat diperhatikan. Belum lagi beban psikologis yang harus ditanggung anak karena ada di bawah bayang-bayang pekerjaan orang tuanya. Sehingga si Anak terus diwanti-wanti untuk tidak jadi apel busuk atau black sheep of the family.
Senior mengatakan biarlah anak tumbuh dengan normal tanpa tekanan dan tanpa beban. Biarlah dia menjadi apa adanya dia. Senior ini pasti sudah membaca seri pendidikan anak atau belajar psikologi anak. Dan itu benar adanya dan semestinya demikian.Tetapi anak-anak kita mau tidak mau memang sedikit banyak harus menanggung akibat dari pekerjaan orang tuanya ini. Meskipun sekecil ini juga sudah bisa protes, tiba-tiba nempel terus ndak mau ditaruh atau menangis ketika kita melambaikan tangan akan pergi padahal biasanya balas melambaikan tangan. Kalau sudah begitu pikiran tidak tenang. Lain kalau kita pergi dibarengi lambaian tangan dan senyum manisnya, rasanya tenang dan bersemangat. Jadi orang tua itu what a job! Tapi anak tidak minta dilahirkan, orang tua yang pengen punya anak! Makanya berusaha jadi good parents! Semoga si anak bisa jauh lebih baik dalam segala hal daripada orang tuanya.
Waktu kuliah (mungkin sampai sekarang) kami-kami ini seringkali melakukan hal yang aneh-aneh dan konyol-konyol. Entah karena kekreatifan kami atau karena kebanyakan stress mikir bayar uang asrama. Tapi ajaibnya waktu itu kami berenam bisa-bisanya berpikir pergi ke Bromo untuk pelesir selesai Ujian Akhir Semester 4 (kalau tidak salah!). Berbekal tekad (soalnya dana tipis tapi bonek!) kami Mas Iwan, Amy Otemusu (dimana dirimu sekarang?), Si Antok, Si Devi dan Si Natael, beserta diri saya berangkat ke Bromo. Pikiran kami nanti tidur di pinggir-pinggir toko atau di mana-lah. Mungkin karena tebalnya iman kami (????) sehingga tidak berpikir bagaimana nanti kalau dinginnya luar biasa dan sebagainya.
Betul! Sesampai di Bromo kami sangat girang,ciaaamikk!.Tetapi dingin yang begitu luar biasa lama – kelamaan menjadi kekhawatiran juga. Masak mau tidur di alam terbuka, bisa-bisa besoknya jadi patung es dan masuk pameran. Maka kami berusaha mencari jalan.
Sambil berpikir, muncul ide yang bagus. Kalau misalnya besok kami benar-benar jadi patung es maka foto ini akan jadi saksi bahwa kami benar-benar manusia. Jadilah kami masuk ke dalam sarung (entah milik siapa sarung itu sudah lupa! Baunya juga tidak teringat lagi). Siapa yang akan motret? Akhirnya kami pilih Amy Otemusu orang Kupang itulah sang juru potrek-nya.
Satu persatu kami masuk ke dalam sarung dengan pikiran yang bersih. Kami yang di dalam sarung itu: Devi cewek Medan yang kelihatan kepalanya saja, lalu laki-laki sebelahnya adalah Natael ( sekarang mereka sudah suami isteri - gara-gara sarung itu…haha- dan bulan depan akan segera punya bayi lagi, anak ke-dua), lalu yang pakai kacamata itu namanya Antok (kabarnya akan segera menikah! Undangannya ya. Nanti kalau pulang kami dibawain wingko lho.Inga…inga…thingg!…hehehe), trus cewek yang satunya yang paling manis itu tentu saja saya (Ih narcisss!hahaha). Dan last but not least yang sepuh dan pakai topi itulah yang namanya mas Iwan. Beliau ini yang memotivasi kami dan meyakinkan kami bahwa meskipun uang sedikit tetapi kami tidak akan jadi patung es di Bromo.( Sameniko wonten pundi, mas?Mbok ngendhangi kula?).
Dan benar, kepiawaian mas Iwan me-lobby memang tidak perlu diragukan lagi. Beliau ini mencari akal sambil jalan-jalan dan akhirnya bertemu siswa-siswa praktek dari SMK Malang yang bekerja di Hotel dan tinggal di sebelah hotel tersebut. Dengan mengerahkan ilmu bahasa Ngalam yang terkenal itu jadilah kami diterima sebagai penginap gratis di wisma mereka. Leganya hati ini bertemu orang-orang murah hati seperti mereka.Tuhan memang baik!!!

Nama gadis ini Inganta. Umurnya sekarang sekitar lebih dari 20 tahun saya kira.Saya bertemu dia di Berastagi tahun 2006. Pada waktu itu dia ada dalam penanganan Women Crisis Centre milik GBKP. Mungkin sekarang dia juga masih ada di sana. Sayangnya sudah sulit menghubungi dia karena Inganta ini memakai nomer yang berganti-ganti kalau mengirim SMS. Terakhir dia mengirim pesan satu tahun lalu.Semoga ada yang bisa menolong saya bisa kontak lagi dengan dia.
Saya masih ingat waktu kami bertemu, dengan hati-hati saya menanyakan kesediannya untuk saya potret. Saya pikir dia akan menolak, tetapi saya salah. Dengan senyum senang dia bersedia sambil berkata," Tapi aku ndak cantik lho, kak!". Kalimat yang bagi saya mengandung kegelisahan. Dan dengan segera dia berpose tanpa arahan.Selesai dipotret, dia bercerita asal mula terjadinya tragedi yang merusakkan wajahnya tanpa saya minta.
Orang tua Inganta petani di pedesaan Berastagi. Dan sambil menjaga ladang, mereka juga mengasuh anak-anak mereka seharian. Biasanya mereka membakar semak dan kayu-kayu kecil untuk mengusir dingin dan serangga. Inganta yang malang ini ketika berumur 1 tahun tanpa diketahui orang tua dan kakaknya masuk ke dalam api dan mengalami luka bakar serius di wajahnya. Gereja kemudian berusaha menolong dan menampungnya,semoga sampai saat ini.
Inganta pernah bercerita bahwa suatu kali ada sesorang dalam bis yang menanyakan sebab kerusakan wajahnya. Selesai bercerita, orang itu merespon dengan menyalahkan orang tuanya karena lalai mengasuh Inganta. Tapi Inganta menepis tuduhan orang itu dan mengatakan bahwa semua itu bukan kesalahan orang tuanya tetapi kecelakaan semata.
Dari situ saya tahu betapa luar biasanya Inganta ini. Saya selalu melihat keceriaan dalam perilakunya selama hampir seminggu saya ada di Women Crisis Centre tempat dia tinggal waktu itu.
Inganta cantik dalam pandangan saya meskipun bukan dengan deskripsi kecantikan yang dianut banyak orang.Meskipun pertemuan kami singkat tetapi dia salah satu yang istimewa, gadis biasa yang luar biasa.

Memiliki foto ini sangat berharga untuk saya karena bisa menolong saya tidak hanya mengingat tetapi bisa melihat prejengan teman-teman dan saya sendiri di masa itu. Memang ada beberapa teman yang tidak terlihat di foto ini, tetapi saya pikir saya pasti tidak akan lupa meskipun tanpa melihat prejengan mereka.
Beberapa di antara mereka masih kontak sampai sekarang tetapi beberapa yang lain tidak ketahuan rimbanya. Mungkin mereka sudah menjadi bos perusahaan, pegawai bank, guru-guru, pekerja perusahaan, tukang roti, tukang becak, dan sebagainya. Tapi di foto ini ada kakak tingkat entah tahun berapa dan siapa namanya (maaf ya kak!).Nampaknya kakak ini baru mengikuti stage (mata kuliah praktek) bareng kami angkatan 1995.Semoga semua ada di jalan yang benar .
Pertemuan dengan teman-teman se-profesi selalu menyenangkan. Selalu ada tawa, saling melempar guyonan dan membawa suka cita. Hari ini pertemuan pertamaku dengan teman-teman se-profesi di lingkungan kerja daerah ini. Membicarakan proggram-proggram apa saja yang akan dilakukan pada tahun 2009 berkaitan dengan studi bersama.Foto ini kelihatan serius ya tetapi sebenarnya tidak banyak yang kami bicarakan serius sekali karena nampaknya acara-acara semacam ini dipakai lebih untuk saling bercerita. Atau mungkin karena tempatnya yang terlalu nyaman. Dalam foto( yang diambil tidak memakai ilmu fotografi) yang kelihatan gegernya dan sudah pasti big size ini tuan rumahnya. Namanya Rev. Joned alias Jojo alias Jomblo. Kami diterima di sebuah gubug yang dijadikan bale bengong, dengan banyak mangga ( yang ada dalam karung beras bulog itu dengan tas plastik supaya nanti kami bisa membawanya pulang…sayang anak…sayang suami/isteri, dan sayang kucing karena di antara kami ada yang belum menikah juga!).Makanan tradisional jajan pasar dan masakan-masakan jawa yang enak juga dimasakkan untuk kami bukan oleh Rev. Jojo pastinya. Juga semilir angin yang sepoi-sepoi ditambah beberapa dari kami harus segera pulang karena ada urusan lain dan memang belum ada topik khusus untuk belajar bersama maka acara tersebut cepat selesai.
Pembicaraan kami betul-betul ngalor-ngidul karena terdiri dari berbagai macam hal, mulai dari hal-hal yang abstrak sampai hal-hal yang konkrit semacam uang. Dan semuanya berjalan begitu mengalir dan penuh tawa. Itu ciri khas kami kalau bertemu dalam acara semacam ini. Memang pembicaraan masih menyisakan Pekerjaan Rumah utamanya untuk menyusun rencana tertulis dari rencana yang sudah dibicarakan . Sayang sekali saya tidak bisa menceritakan di sini detail-detail pembicaraan yang ngalor-ngidul tadi karena rahasia perusahaan :-)